Inilah 12 Tanda Orang yang Meninggal Dalam Keadaan Khusnul Khotimah

Insan Muslim/Muslimah yang beriman dan bertaqwa semuanya niscaya mendambakan meninggalkan dunia ini dalam keadaan khusnul khatimah. Hal ini merupakan sebagai kabar bangga dengan kebaikan untuknya.

Al-Imam Al-Albani ra menyebutkan beberapa tanda meninggal husnul khatimah yang terdapat di dalam kitabnya Ahkamul Jana`iz wa Bida’uha

Berikut ringkasan keduabelas gejala husnul khatimah. Semoga dengan berdoa kepada Tuhan SWT kita semua termasuk kedalam golongan atau orang-orang yang mendapat khusnul khatimah dengan kemurahan dari Tuhan SWT. Insya Allah, berikut ulasan selengkapnya


Pertama: Mengucapkan Dua Kalimat Syahadat Pada Saat Akan Meninggal

Dari Mu’adz bin Jabal ra, ia memberikan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:  “Siapa yang final ucapannya yaitu kalimat ‘La ilaaha illallah’ ia akan masuk surga.” (HR. Al-Hakim dan selainnya dengan sanad yang hasan1)
Kedua: Meninggal Dengan Adanya Keringat Di Dahi.

Buraidah ibnul Hushaib ra, dikala berada di Khurasan menjenguk saudaranya yang sedang sakit. Didapatkannya saudaranya ini menjelang ajalnya dalam keadaan berkeringat di dahinya. Ia pun berkata, “Allahu Akbar! Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Meninggalnya seorang mukmin dengan keringat di dahi.” (HR. Ahmad, An-Nasa`i, dll. Sanad An-Nasa`i shahih di atas syarat Al-Bukhari)

Ketiga: Meninggal Pada Malam  Hari Atau Pada Siang Hari Jum’at.

Dari Abdullah bin ‘Amr ra, ia menyebutkan sabda Rasulullah SAW yang artinya  “Tidak ada seorang muslimpun yang meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at, kecuali Tuhan akan menjaganya dari fitnah kubur.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi. Hadits ini mempunyai syahid dari hadits Anas, Jabir bin Abdillah g dan selain keduanya, maka hadits ini dengan seluruh jalannya hasan atau shahih).

Keempat: Seseorang yang Mati Syahid di Medan Perang.

Allah SWT berfirman yang artinya: “Dan janganlah kau mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Tuhan itu mati bahkan mereka hidup di sisi Rabb mereka dengan mendapat rizki. Mereka dalam keadaan bangga disebabkan karunia Tuhan yang diberikan-Nya kepada mereka dan mereka beriang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang mereka (yang masih berjihad di jalan Allah) yang belum menyusul mereka. Ketahuilah tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Mereka bergembira dengan nikmat dan karunia yang besar dari Tuhan dan Tuhan tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.” (Ali Imran: 169-171).

Dalam hal ini ada beberapa hadits: Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Bagi orang syahid di sisi Tuhan ia beroleh enam perkara, yaitu diampuni dosanya pada awal mengalirnya darahnya, diperlihatkan tempat duduknya di surga, dilindungi dari adzab kubur, kondusif dari kengerian yang besar (hari kiamat), dipakaikan komplemen iman, dinikahkan dengan hurun ‘in (bidadari surga), dan diperkenankan memberi syafaat kepada tujuh puluh orang dari kalangan kerabatnya.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad dengan sanad yang shahih).

Salah seorang sahabat Rasulullah SAW mengabarkan: Ada orang yang bertanya, “Wahai Rasulullah, kenapa kaum mukminin mendapat fitnah (ditanya) dalam kubur mereka kecuali orang yang mati syahid?” Beliau SAWmenjawab: “Cukuplah kilatan pedang di atas kepalanya sebagai fitnah (ujian).” (HR. An-Nasa`i dengan sanad yang shahih).

Kelima: Seseorang yang meninggal di jalan Tuhan SWT.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu memberikan sabda Rasulullah SAW yang artinya: “Siapa yang terhitung syahid berdasarkan anggapan kalian?” Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, siapa yang terbunuh di jalan Tuhan maka ia syahid.” Beliau menanggapi, “Kalau begitu, syuhada dari kalangan umatku hanya sedikit.” “Bila demikian, siapakah mereka yang dikatakan mati syahid, wahai Rasulullah?” tanya para sahabat. Beliau menjawab, “Siapa yang terbunuh di jalan Tuhan maka ia syahid, siapa yang meninggal di jalan Tuhan maka ia syahid, siapa yang meninggal lantaran penyakit tha’un2 maka ia syahid, siapa yang meninggal karena penyakit perut maka ia syahid, dan siapa yang tenggelam ia syahid.” (HR. Muslim).

Keenam:  Orang yang Meninggal Dunia Karena Penyakit Tha’un.

Selain disebutkan dalam hadits di atas juga ada hadits dari Anas bin Malik ra, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Tha’un yaitu syahadah bagi setiap muslim.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Tentang penyakit Tha’un simak hadits Rasulullah SAW dibawah ini
Aisyah ra pernah bertanya kepada Rasulullah SAW ihwal tha’un, maka Rasulullah SAW mengabarkan kepadanya: “Tha’un itu yaitu adzab yang Tuhan kirimkan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Maka Tuhan jadikan tha’un itu sebagai rahmat bagi kaum mukminin. Siapa di antara hamba (muslim) yang terjadi wabah tha’un di tempatnya berada kemudian ia tetap tinggal di negerinya tersebut dalam keadaan bersabar, dalam keadaan ia mengetahui tidak ada sesuatu yang menimpanya melainkan lantaran Tuhan telah menetapkan baginya, maka orang menyerupai ini tidak ada yang patut diterimanya kecuali mendapat semisal pahala syahid.” (HR. Al-Bukhari).

Satu pendapat menyebutkan bahwa tha’un yaitu luka-luka semacam bisul bernanah yang biasa muncul di siku, ketiak, tangan, jari-jari dan seluruh tubuh, disertai dengan bisul serta sakit yang sangat. Luka-luka itu keluar disertai rasa panas dan menghitam tempat sekitarnya, atau menghijau ataupun memerah dengan merah lembayung (ungu) yang suram. Penyakit ini menciptakan jantung berdebar-debar dan memicu muntah. (Lihat Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 14/425) (Wallahualam).

Ketujuh: Orang yang Meninggal Karena Penyakit Perut, Tertimpa Reruntuhan dan Tenggelam.

Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Syuhada itu ada lima, yaitu orang yang meninggal lantaran penyakit tha’un, orang yang meninggal lantaran penyakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang meninggal lantaran tertimpa reruntuhan, dan orang yang gugur di jalan Allah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

Kedelapan: Seorang Ibu yang Meninggal Dalam Keadaan Hamil (Dengan Anak di Dalam Kandungannya).

Dari Ubadah ibnush Shamit ra. Ia mengabarkan bahwa Rasulullah SAW menyebutkan beberapa syuhada dari umatnya di antaranya: “Wanita yang meninggal lantaran anaknya yang masih dalam kandungannya yaitu mati syahid, anaknya akan menariknya dengan tali pusarnya ke surga.” (HR. Ahmad, Ad-Darimi, dan Ath-Thayalisi dan sanadnya shahih).

Kesembilan: Seseorang yang Meninggal dalam keadaan berjaga-jaga dijalan Tuhan (ribath) Fi Sabilillah.

Dari Salman Al-Farisi ra menyebutkan Rasulullah SAW bersabda yang artinya:“Berjaga-jaga (di jalan Allah) sehari dan semalam lebih baik daripada puasa sebulan dan shalat sebulan. Bila ia meninggal, amalnya yang biasa ia lakukan dikala masih hidup terus dianggap berlangsung dan diberikan rizkinya serta kondusif dari fitnah (pertanyaan kubur).” (HR. Muslim).

Kesepuluh: Orang yang Meninggal dalam Keadaan Beramal Shalih.

Dari Hudzaifah ra memberikan sabda Rasulullah SAW yang artinya: “Siapa yang mengucapkan La ilaaha illallah lantaran mengharapkan wajah Tuhan yang ia menutup hidupnya dengan amal tersebut maka ia masuk surga. Siapa yang berpuasa sehari lantaran mengharapkan wajah Tuhan yang ia menutup hidupnya dengan amal tersebut maka ia masuk surga. Siapa yang bederma dengan satu sedekah lantaran mengharapkan wajah Tuhan yang ia menutup hidupnya dengan amal tersebut maka ia masuk surga.” (HR. Ahmad, sanadnya shahih)

Kesebelas: Orang yang Meninggal Karena Mempertahankan Harta Benda (Seperti Dirampok, Perampasan, di Begal oleh orang lain).

Rasulullah SAW bersabda yang artinya:“Siapa yang terbunuh lantaran mempertahankan hartanya maka ia syahid.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Datang seseorang kepada Rasulullah SAW, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu bila tiba seseorang ingin mengambil hartaku?” Beliau menjawab, “Jangan engkau berikan hartamu.” Ia bertanya lagi, “Apa pendapatmu kalau orang itu menyerangku?” “Engkau melawannya,” jawab beliau. “Apa pendapatmu bila ia berhasil membunuhku?” tanya orang itu lagi. Beliau menjawab, “Kalau begitu engkau syahid.” “Apa pendapatmu kalau saya yang membunuhnya?” tanya orang tersebut. “Ia di neraka,” jawab beliau. (HR. Muslim)

Keduabelas:  Meninggal Karena Membela Agama Islam dan Mempertahankan Diri.

Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Siapa yang meninggal lantaran mempertahankan hartanya maka ia syahid, siapa yang meninggal lantaran membela keluarganya maka ia syahid, siapa yang meninggal lantaran membela agamanya maka ia syahid, dan siapa yang meninggal lantaran mempertahankan darahnya maka ia syahid.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa`i, dan At Tirmidzi dari Sa’id bin Zaid ra dan sanadnya shahih).


Semoga dengan mengetahui gejala meninggal dalam keadaan husnul khatimah menyebabkan kita semua senantiasa selalu beriman dan bertaqwa kepada Tuhan SWT. Semoga dengan doa, dan penuh impian kita semua kembali kepada Tuhan SWT dalam keadaan husnul khatimah dan dimasukkan dalam golongan-golongan penghuni Surga, aamiin.