Kisah Curhatan Seorang Istri Tentang Suaminya yang Selalu Bersikap Cemberut. Suami Wajib Baca

Suami saya -semoga Yang Mahakuasa memaafkan dia, meskipun beliau berpegang teguh dengan agama dan mempunyai budpekerti yang tinggi serta takut kepada Allah, tetapi beliau tidak mempunyai perhatian kepada saya sedikit pun. Jika di rumah, ia selalu berwajah cemberut, sempit dadanya dan terkadang beliau menyampaikan bahwa sayalah penyebab masalahnya.

Tetapi Allah-lah yang mengetahui bahwa saya, ‘Alhamdulillah’ telah melakukan hak-haknya. Yakni menjalankan kewajiban saya sebagai istri. Saya berusaha semaksimal mungkin sanggup memperlihatkan ketenangan kepada suami dan menjauhkan segala hal yang membuatnya tidak suka. Saya selalu sabar atas tindakan-tindakannya terhadap saya.

Setiap saya bertanya sesuatu kepadanya, beliau selalu marah, dan beliau menyampaikan bahwa ucapan saya tidak bermanfaat dan kampungan. Padahal perlu diketahui, jikalau kepada teman-temannya, suami saya tersebut termasuk orang yang murah senyum. Sedangkan terhadap saya, ia tidak pernah tersenyum; yang ada hanyalah celaan dan perlakuan buruk. Hal ini menyakitkan dan saya merasa sering tersiksa dengan perbuatannya. Saya ragu-ragu dan beberapa kali berpikir untuk meninggalkan rumah.


Jadi apabila saya meninggalkan rumah dan mendidik sendiri bawah umur saya dan berusaha mencari pekerjaan untuk membiayai bawah umur saya sendiri, apakah saya berdosa? Ataukah saya harus tetap tinggal bersama suami dalam keadaan menyerupai ini, (yaitu) jarang berbicara dengan suami, (ia) tidak bekerja sama dan tidak mencicipi problem saya ini?"

Jawabannya ialah bahwa sudah kewajiban atas suami isteri ialah bergaul dengan baik dan saling menampakkan wajah penuh dengan kecintaan. Dan hendaklah berakhlak dengan budpekerti mulia, (yakni) dengan menampakkan wajah ceria, berdasarkan firman Yang Mahakuasa yang artinya: "Pergaulilah mereka dengan baik". (An Nisa` : 19).

Firman Yang Mahakuasa SWT yang artinya : "Dan para perempuan mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya berdasarkan cara yang ma’ruf, akan tetapi, para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isteri". (Al Baqarah : 228).
Arti kelebihan disini, secara umum pria lebih unggul dari pada wanita. Tetapi nilai-nilai yang ada pada setiap individu di sisi Allah, tidak berarti pria niscaya derajatnya lebih tinggi. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Yang Mahakuasa yaitu yang paling bertakwa.

Rasulullah SAW bersabda yang artinya: "Kebaikan itu yaitu budpekerti yang baik". (HR Muslim).


Dalam hadits lainnya sabda Rasulullah SAW yang artinya : "Sedikitpun janganlah engkau menganggap remeh perbuatan baik, meskipun ketika berjumpa dengan saudaramu engkau menampakkan wajah ceria". (HR Muslim).

Juga berdasarkan sabda Rasulullah SAW yang artinya: "Orang yang paling tepat imannya yaitu yang terbaik akhlaknya di antara mereka. Dan sebaik-baik kalian yaitu yang terbaik terhadap isteri-isteri kalian".(Diriwayatkan oleh Tirmidzi).

Ini semua menunjukkan, bahwa motivasi berakhlak yang baik dan menampakkan wajah ceria pada ketika bertemu serta bergaul dengan baik kepada kaum Muslimin, berlaku secara umum; terlebih lagi kepada suami atau isteri dan kerabat.

Oleh alasannya itu, engkau telah berbuat baik dalam hal kesabaran dan ketabahan atas penderitaanmu, yaitu menghadapi kekasaran dan keburukan suamimu. Saya berwasiat kepada dirimu untuk terus meningkatkan kesabaran dan tidak meninggalkan rumah di karenakan hal itu. Insya Yang Mahakuasa akan mendatangkan kebaikan yang banyak. Dan akhir yang baik, insya Yang Mahakuasa diberikan kepada orang-orang yang sabar. Banyak ayat yang menunjukan, barangsiapa yang bertakwa dan sabar, maka bergotong-royong tanggapan yang baik itu bagi orang-orang yang bertakwa. Dan bergotong-royong Yang Mahakuasa akan memberi ganjaran yang besar tanpa hisab kepada oraang-orang yang sabar.

Tidak ada halangan dan rintangan untuk bercanda dan bergurau, serta mengajak bicara suami dengan ucapan-ucapan yang sanggup melunakkan hatinya, dan yang sanggup menyebabkan lapang dadanya dan menumbuhkan kesadaran akan hak-hakmu.

Tinggalkanlah tuntutan-tuntutan kebutuhan dunia (yang tidak pokok) selama sang suami melakukan kewajiban dengan memperlihatkan nafkah dari kebutuhan-kebutuhan yang pokok, sehingga ia menjadi nrimo dan hatinya tenang. Engkau akan mencicipi tanggapan yang baik, insya Allah. Semoga Yang Mahakuasa memperlihatkan taufiq kepada dirimu untuk mendapat kebaikan dan memperbaiki keadaan suamimu. Semoga Yang Mahakuasa membimbingnya kepada kebaikan dan memperbaiki akhlaknya. Semoga Yang Mahakuasa membimbingnya untuk sanggup bermuka ceria dan melakukan kewajiban-kewajiban kepada isterinya dengan baik. Sesungguhnya, Yang Mahakuasa yaitu sebaik-baik yang diminta, dan Dia yaitu pemberi hidayah kepada jalan yang lurus. (Dinukil dari buku Fatawa Islamiyyah).

Ini menunjukkan, bahwa seorang perempuan diperbolehkan untuk mengeluh dan memberikan problemnya kepada orang yang alim, atau orang yang dianggap sanggup menuntaskan masalahnya. Hal ini tidak sama dengan sebagian perempuan yang sering, atau suka menceritakan diam-diam rumah tangganya, termasuk kelemahan dan keburukan suaminya kepada orang lain, tanpa bermaksud menuntaskan masalahnya.

Sehubungan dengan permasalahan ini, Syaikh ‘Utsaimin mengatakan, bahwa apa yang disampaikan oleh sebagian wanita, yang menceritakan keadaan rumah tangganya kepada kerabatnya, sanggup jadi (kepada) orang renta isteri atau abang perempuannya, atau kerabat yang lainnya, bahkan kepada teman-temannya, (hukumnya) yaitu diharamkan. Tidak halal bagi seorang perempuan membuka diam-diam rumah tangganya dan keadaan suaminya kepada seorang pun. Karena seorang perempuan yang shalihah ialah, yang sanggup menjaga dan memelihara kedudukan martabat suaminya. Nabi n telah memberitakan, seburuk-buruk insan kedudukannya di sisi Yang Mahakuasa pada hari Kiamat ialah, seorang pria yang suka menceritakan keburukan isterinya, atau seorang perempuan yang menceritakan keburukan suaminya.

Meski demikian, jangan dipahami bahwa secara mutlak seorang perempuan dihentikan menceritakan keburukan seorang suami. Karena, pada masa Nabi pun ada seorang perempuan yang tiba kepada Rasulullah n dan berkata: “Ya, Rasulullah. Suami saya yaitu orang yang kikir, tidak memperlihatkan nafkah yang cukup bagi saya. Bolehkah saya mengambil darinya tanpa sepengetahuannya untuk sekedar mencukupi kebutuhan saya dan anak saya?”

Mendengar penuturan orang ini, Rasulullah SAW menjawab: "Ambillah nominal yang mencukupi kebutuhanmu dan anakmu". (Muttafaqun ‘alaihi).

Sebagai suami sudah seharusnya untuk selalu baik terhadap istri. Dan memperlihatkan rasa kasih sayang, rasa cinta serta membahagiakan istrinya. Semoga bermanfaat untuk semua, Sumber facebook.