Inilah Tipe Seorang Suami yang Tidak Disukai Rasulullah SAW
Perasaan cemburu intinya merupakan hal yang masuk akal dimiliki oleh manusia, baik bawah umur ataupun orang dewasa. Jika bawah umur cemburu terhadap saudara kandungnya, orang cukup umur cemburu terhadap pasangannya (bagi yang sudah menikah). Bagi pasangan yang sudah menikah (suami istri) mempunyai rasa cemburu itu merupakan sebagian wujud menyampaikan rasa cinta terhadap pasangan. Seperti kita ketahui, rasa terbesar cemburu lebih sering ditunjukkan oleh para istri ketimbang oleh para suami. Rasulullah SAW tidak menyukai para suami yang tidak mempunyai rasa cemburu pada istrinya. Selengkapnya simak ulasan berikut ini.
Inilah Tipe Seorang Suami yang Tidak Disukai Rasulullah SAW
Seorang istri niscaya mempunyai rasa cemburu terhadap suaminya begitu juga sebaliknya seorang suami juga mempunyai rasa cemburu terhadap istrinya. Ada tiga golongan pria yang tidak diizinkan oleh Yang Mahakuasa memasuki Surga-Nya yaitu pria pemabuk, pria durhaka pada orang bau tanah (terutama Ibunya) dan pria yang bersifat dayyuts. Apa arti dayyuts, Rasul menyampaikan ini yakni seorang suami yang tidak pernah memperdulikana keadaan didalam rumah tangganya.
Di dalam agama Islam sendiri mempunyai rasa cemburu antara suami dan istri tidak dipermasalahkan, yang niscaya cemburu itu ada pada batasnya dan tidak berlebihan. Nah, suami yang tidak dibenci oleh Rasulullah ini bukan hanya sekedar mempunyai sifat dayyuts saja, bahkan tidak sedikit daripada mereka tidak menggubris saat istrinya dirayu oleh pria lain. Padahal seharusnya suami harus harus sadar bila mempunyai rasa cemburu niscaya ia mencegah hal itu terjadi dan membela istrinya bila dirayau .Rasa cemburu ini juga bentuk perhatian kasih sayangnya pada istri. Dengan demkian ia termasuk suami yang diridhai oleh Yang Mahakuasa SWT.
| Ilustrasi |
Mulianya Perasaan Cemburu yang Dimiliki Oleh Suami
Di dalam Islam diajarkan bagaimana menjadi suami mempunyai rasa cemburu yang baik. Ada banyak kemuliaan dalam cemburunya seorang suami. Seperti contoh, bila suami melihat istrinya tidak menutup aurat ia meminta istrinya dengan tegas untuk menutup aurat, alasannya sudah kewajiban muslimah menutup auratnya. Suami menyerupai ini sangat mengerti ihwal agama, terlebih menyangkut istrinya. Pasti ia akan selalu memperhatikan perbuatan istrinya tidak hingga melanggar hukum Yang Mahakuasa SWT.
Sebagian ulama beropini bahwa antara suami dan istri harus mempunyai rasa cemburu yang berlandaskan dengan pikiran yang sehat, dengan begitu cemburu menjadi sesuatu yang mulia. Melalui karyanya, secara sederhana Syekh Ibrahim menegaskan bahwa hakikat dari rasa cemburu yakni bersih. Cemburu berdasarkan pandangan Islam yakni cemburu yang jauh dari nafsu duniawi. Dalam bahasa Arab, cemburu diistilahkan sebagai ghirah. Ada dua macam ghirah :
Ghirah yang pertama disebut ghirah lil mahbub, yaitu mempunyai perasaan cemburu untuk membela orang yang dicintai yaitu membela istri. Ghirah yang kedua disebut ghirah ‘alal mahbub. Ghirah ini lah yang menjelaskan ihwal rasa cemburu terhadap orang lain yang juga mengasihi orang yang dicintainya. Suami yang mempunyai ghirah menyerupai inilah yang disebut sebagai suami terpuji alasannya ia betul-betul menjaga apa yang sudah menjadi miliknya.
Sahabat renungan Islam, sudahkah sahabat semua mengetahuinya bahwa cemburu itu mempunyai makna yang baik di dalam Islam. Terpenting jangan cemburu sangat berlebihan, bukan kemuliaan yang tiba malah kemurkaan dari Yang Mahakuasa SWT. Jangan hingga cemburu menjadi perusak kebahagiaan rumah tangga, alangkah lebih baik mengontrol rasa cemburu.
Semoga bermanfaat, wallahualam bissawab.